• Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, We Are The Best And The Biggest, Batam Mariculture Development Center Leading Innovation in Mariculture Development, Motto Pelayanan : Datang Membawa Harapan, Pulang Membawa Senyuman

Alternatif Pakan untuk Rotifera (Brachionus sp.)

picture2

Keberhasilan kegiatan budidaya didukung oleh berbagai faktor, diantaranya penyediaan benih yang berkuantitas, berkualitas, dan berkesinambungan. Ketersediaan benih sangat dipengaruhi oleh pakan awalnya yang berupa pakan hidup, baik fitoplankton maupun zooplankton sangat dibutuhkan, khususnya rotifera (Brachionus sp.). Pakan utama rotifera adalah fitoplankton terutama dari jenis Nannochloropsis sp. tetapi kadangkala pada budidayanya di skala massal ketersediaannya fluktuatif karena dipengaruhi musim ; untuk itu diperlukan alternatif sumber pakannya. Ragi diketahui dapat dijadikan alternatif karena keberadaannya tidak tergantung musim, mudah didapatkan, dan ekonomis serta penggunaanya dapat dikombinasikan dengan vitamin, suplemen (misalnya taurin), dan lainnya guna meningkatkan pertumbuhan populasinya. Ini sesuai dengan pernyataan Dhert P.and Delbare, 1986 yang menyatakan bahwa selain fitoplankton sebagai pakan utama ; bakteri, jamur ragi, dan bahan organik lainnya yang berukuran sesuai dengan bukaan mulut juga menjadi makanan yang disukai zooplankton laut.

Ragi diberikan dengan dosis 5-10 mg/L per hari dengan cara ragi dilarutkan dalam air. Setelah larut, didiamkan beberapa saat sampai tidak terasa panas lagi baru diberikan ke media kultur Rotifera (Brachionus sp.). Pemberian pakan ini diberikan dua kali dalam sehari. Pada kultur Rotifera (Brachionus sp.) di skala massal berkapasitas 25 M3 dengan sistem konvensional di BPBL Batam dengan pemberian pakan Ragi, kepadatan Rotifera (Brachionus sp.) dapat mencapai rata-rata 120 ind/ml kontinyu panen selama dua minggu.

picture1Gambar 1. Rotifera (Brachionus sp.)

picture2 Gambar 2. Ragi

Pemberian pakan berupa ragi roti, yang dapat dikombinasikan dengan vitamin, suplemen (misalnya taurin), dan lainnya ; dapat dijadikan alternatif pakan pada kultur Rotifera (Brachionus sp.) sebagai pengganti fitoplankton bila fitoplankton sebagai pakan utama Rotifera (Brachionus sp.) tidak tersedia. Walau bagaimanapun penggunaan pakan hidup (fitoplankton) sebagai pakan Rotifera (Brachionus sp.) lebih baik daripada pakan buatan. Hal ini dikarenakan pakan hidup mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan pakan buatan, diantaranya adalah kandungan gizi yang baik dan berperan dalam menjaga kualitas air.

Perbaikan Teknologi Produksi Massal Benih Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch 1790) untuk Mendukung Industrialisasi Budidaya Laut

Dikrurahman, Tinggal Hermawan, Salsal Purba, Ade Harwono

 Abstrak

Ikan Kakap Putih merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan laut yang bernilai ekonomis tinggi dan memiliki segmen pasar yang luas, baik dalam maupun luar negeri. Salah satu faktor yang selama ini menghambat perkembangan usaha budidaya ikan kakap putih di Indonesia adalah masih sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik. Tingkat kematian yang tinggi pada fase larva dan benih dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, diantaranya kanibalisme, degradasi lingkungan media pemeliharaan, dan serangan penyakit. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperbaiki teknologi pembenihan ikan kakap putih dalam upaya peningkatan produksi benih secara kontinyu dan berkualitas. Metode yang dilakukan adalah serangkaian perbaikan teknologi pembenihan, mulai dari seleksi dan pemijahan induk hingga pemeliharaan larva dan benih, termasuk didalamnya adalah pengelolaan pakan dan pengelolaan kualitas air media pemeliharaan. Selain itu, beberapa teknologi mutakhir hasil perekayasaan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam juga diterapkan dalam produksi benih ini, diantaranya adalah melalui perbaikan kualitas air media pemeliharaan seperti penerapan sistem resirkulasi, sterilisasi air dengan teknik klorinasi, serta shocking temperature. Produksi benih melalui kegiatan pemeliharaan di BPBL Batam dengan perbaikan teknologi ini menunjukkan hasil yang signifikan, yaitu pertumbuhan yang lebih cepat (panjang rata-rata 5 cm dalam waktu 40-45 hari), tingkat kelangsungan hidup sampai dengan ukuran 5 yang lebih tinggi (SR 15%-20%), kenaikan SR pada produksi benih siap tebar (10 cm) hingga 30% (sebelumnya SR 40% menjadi 75%) dan tingkat abnormalitas benih yang lebih rendah (kurang dari 5%). Dengan potensi pasar benih untuk kegiatan pembesaran yang terbuka luas, segmentasi usaha pembenihan ikan kakap putih memiliki prospek yang baik. Sebagai contoh, perhitungan analisa usaha untuk kegiatan pendederan (produksi benih) ikan kakap putih pada hatcheri skala kecil dalam satu tahun, sebagai berikut: biaya investasi Rp 50.000.000,-; biaya operasional dan non-operasional Rp 80.000.000,-; menghasilkan pendapatan Rp 140.000.000,- dan keuntungan Rp 60.000.000,-. Periode Pembayaran Kembali (Payback Period), dapat sepenuhnya kembali dalam 10 bulan.

Kata Kunci: Kakap Putih, Klorinisasi, Kualitas Air, Pembenihan, Resirkulasi, Shocking Temperature

Teknologi Produksi Massal Benih Ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochii Lacepede) untuk Penyediaan Benih Berkualitas

Tinggal Hermawan, Nur Muflich Juniyanto, M. Kadari, Joni Agus Rusdian

 Abstrak

Ikan Bawal Bintang merupakan salah satu komoditas budidaya laut baru yang memiliki prospek menjadi komoditas industrialisasi budidaya laut di Indonesia. Keunggulan budidaya ikan Bawal Bintang adalah teknologi perbenihannya telah dikuasai, masa pemeliharaan benih lebih singkat, pertumbuhannya cepat , teknologi budidayanya baik di tambak maupun dalam karamba jaring apung telah dikuasai dengan baik, mampu mentolerir perubahan salinitas mulai dari 19-34 ppt, mampu hidup dalam kondisi yang padat di keramba jaring apung, efisien dalam memanfaatkan pakan dan adaptif terhadap berbagai jenis pakan. Di Indonesia budidaya ikan Bawal Bintang dikembangkan oleh Balai Budidaya Laut Batam sejak tahun 1999 dan berhasil membenihkan secara massal pada tahun 2007. Saat ini budidaya ikan Bawal Bintang telah berkembang di beberapa provinsi seperti Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Riau, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Tujuan kegiatan ini untuk menghasilkan teknologi produksi benih massal ikan Bawal Bintang guna memenuhi kebutuhan benih yang berkualitas. Pembenihan Bawal Bintang dimulai dengan pemijahan induk yang dilakukan dengan rangsangan hormonal. Pemijahan dilakukan dengan ratio perbandingan betina : Jantan adalah 1:1 per kg bobot ikan. Selanjutnya telur yang dihasilkan diinkubasi dan ditetaskan selama ± 16-18 jam. Telur yang dihasilkan mempunyai FR sebesar 70–90% dan HR sebesar 70-90%. Larva kemudian dipelihara di bak pemeliharaan dengan menggunakan sistem green water dan pakan berupa rotifer, artemia dan pellet. Setelah masa pemeliharaan ± 2225 hari larva akan dipanen dan dipindahkan ke bak pendederan. SR yang dihasilkan selama pemeliharaan larva berkisar antara 2040%. Umumnya ikan dipanen dan dipindahkan ke bak pendederan setelah berukuran sekitar 2 cm. Pada masa pendederan ikan dipelihara dengan kepadatan 2-3 ekor/liter dengan sistem air mengalir. Sistem ini digunakan karena pergerakan Bawal Bintang ini yang aktif. Pakan selama fase pendederan sepenuhnya adalah pellet. Grading dilakukan setiap 1 minggu sekali. Waktu yang diperlukan untuk mendederkan sekitar 1 bulan, atau sampai ikan berukuran 5-6 cm. Setelah itu ikan dipanen dan siap untuk dipindahkan ke pembesaran /KJA.

 Kata kunci : Bawal Bintang, Pembenihan, Pendederan