• Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, We Are The Best And The Biggest, Batam Mariculture Development Center Leading Innovation in Mariculture Development, Motto Pelayanan : Datang Membawa Harapan, Pulang Membawa Senyuman

Monitoring Kualitas Perairan Budidaya Laut (bagian 1)

fluktu-1

Kegiatan budidaya perikanan baik tawar, payau maupun laut sangat tergantung kondisi perairan. Parameter perairan merupakan indikator dalam penentuan keadaan suatu perairan yang masih memiliki daya dukung terhadap lingkungan atau bahkan sudah tidak mampu lagi menampung beban yang berasal dari lingkungan.

Dalam perairan, ada tiga parameter yang saling mendukung dan membentuk dinamika fluida perairan yakni parameter fisika air, kimia air dan biologi air. Menurut kartamihardja (2008) dalam Aisyah dan Subehi (2012) bahwa tiap jenis ikan mempunyai toleransi tertentu terhadap perubahan kualitas air dan perubahan yang terjadi akan langsung mempengaruhi kehidupan ikan dan organisme yang ada. Oleh karena itu pemantauan atau monitoring kondisi kualitas air sangat penting dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap ikan budidaya.

Sebagai institusi di bidang perikanan budidaya, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, secara rutin melakukan monitoring kondisi kualitas air di keramba jaring apung. Dimana beragam komoditas dibudidayakan antara lain ikan bawal  bintang, kakap putih, kakap merah, kerapu macan, kerapu cantang, kerapu sunu.

Pada tulisan bagian pertama ini dibahas singkat mengenai beberapa parameter fisika perairan yang sering mempengaruhi kegiatan budidaya antara lain suhu, kecepatan arus, kecerahan, kekeruhan, kedalaman.

Suhu di laut merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup organisme di laut, karena suhu mempengaruhi baik aktifitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut. Suhu alami air laut berkisar antara suhu 29º – 30ºC.

Kecerahan  merupakan  ukuran tranparansi perairan, dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi, serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran. Tinggi rendahnya tingkat kecerahan perairan sangat dipengaruhi intensitas cahaya matahari yang dapat menembus kedalaman lapisan perairan.

Kedalaman adalah parameter fisika yang mendasar dan berpengaruh pada aspek lainnya seperti kecerahan, suhu, dan kelarutan oksigen. Kedalaman dapat mempengaruhi nilai suhu dan kecerahan. Intensitas cahaya yang masuk ke dalam perairan akan berkurang dengan semakin besarnya kedalaman perairan (Hutabarat dan Evans, 1985).

Arus adalah penggerak massa air secara vertikal dan horizontal sehingga menuju keseimbangannya. Gerakan yang terjadi merupakan hasil resultan dari berbagai macam gaya yang bekerja pada permukaan, kolom, dan dasar perairan (Susetya, 2014).

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya partikel tanah liat, lumpur, koloid tanah dan organisme perairan) dan sedikit dipengaruhi oleh warna perairan (Sutika dalam Armita, 1989).

Hasil monitoring parameter fisika perairan KJA BPBL Batam secara rutin diperoleh data suhu perairan berkisar antara 29,2 – 30,3 0C, kecerahan 2,2 – 4,5 meter, kedalaman perairan berkisar 6,4 – 8,8 meter, kecepatan arus 0,1 – 0,5 meter/detik, sementara nilai kekeruhan perairan KJA berkisar 2,63 – 7,82 NTU.

Kondisi parameter fisika ini berfluktuasi dimana dipengaruhi oleh pasang surut, cuaca, musim, angin (kondisi laut wilayah kepulauan), run-off atau limpasan air dari daratan. Bagaimana faktor fisika air ini mempengaruhi ikan budidaya? Suhu perairan yang dingin (lebih rendah dari suhu normal perairan) dapat menyebabkan nafsu makan ikan yang dipelihara berkurang.

Tingkat kekeruhan yang tinggi dan arus yang kencang dapat mengakibatkan ikan stress, mempengaruhi respirasi ikan. Kompleksitas beberapa faktor ini dapat membuat daya tahan ikan menurun, sakit dan bahkan kematian.

Bagaimana mengelola kegiatan budidaya di keramba sehubungan kondisi perairan yang berfluktuasi? Dalam hal ini manajemen pemeliharaan ikan  budidaya sangat penting.

Beberapa hal yang dilakukan adalah dengan pergantian jaring secara rutin, dikarenakan tingkat kekeruhan yang cukup tinggi. Perendaman ikan dengan air tawar sebagai tindakan pengendalian penyakit. Pemasangan pemberat jaring yang cukup untuk mengantisipasi arus air yang kencang. Meski terkadang kondisi perairan KJA cukup ekstrim seperti saat musim hujan, secara umum masih dapat mendukung kegiatan budidaya.

Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 mengenai Baku Mutu Perairan untuk Biota Laut,  kondisi perairan KJA BPBL Batam masih dapat mendukung kelangsungan hidup biota khususnya ikan budidaya.

Aplikasi Penambahan Protein Rekombinan Pada Pakan Pendederan Ikan Bawal Bintang Ternyata Dapat Memberikan Hasil

bawal-rekombinan

Benih Ikan Bawal Bintang

Balai Perikanan Budidaya Laut Batam telah mengembangkan produksi Ikan Bawal Bintang yang cukup efektif dan efisien sehingga dapat  mudah diaplikasikan pada masyarakat.

Namun  seiring perkembangan teknologi, pengembangan teknologi produksi benihnya harus terus dilakukan, salah satunya dengan kegiatan perekayasaan peningkatan kualitas imputan pakan dengan penambahan berbagai bahan tambahan salah satunya adalah penambahan protein rekombina,

Ir. Muh. Kadari, M.Si sebagai koordinator perekayasaan mengatakan Aplikasi penambahan protein rekombinan pada pakan pendederan ikan bawal bintang ternyata dapat memberikan hasil yang cukup signifikan untuk pertumbuhan selama pemeliharaan 35 hari, dari berat awal 5,5 gram menjadi 25,65 gram dengan SR (survival rate) 84 persen dari benih awal sebanyak 500 ekor.

Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jalin Kerjasama Penelitian dan Perekayasaan

picture1

picture4Kamis (28/9) Tim dari Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kunjungan kerja dalam rangka pembahasan kerjasama penelitian dan perekayasaan. Tim dari UGM dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Rustadi, M.Sc didampingi oleh Ir. Sukardi, M.P, Dr. Ir. Ignatius Hardaningsih, M.Si, Dr. Ir. Bambang Triyatmo, M.P dan Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc.

Pada pertemuan antara kedua institusi tersebut, Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Batam (drh. Toha Tusihadi) menyampaikan pokok-pokok usulan kerjasama antara lain meliputi bidang teknologi budidaya laut, kesehatan ikan dan peningkatan daya saing produk hasil budidaya.

Usulan kerjasama bidang teknologi budidaya laut antara lain produksi algae pasta, teknologi pemijahan serta produksi telur beku dan semen beku, produksi sumber protein alternatif berbasis mikroba serta pemanfaatan enzim,  probiotik dan protein hidrolisat untuk efisiensi pakan.picture2

Usulan kerjasama perekayasaan bidang kesehatan ikan dan peningkatan daya saing meliputi kajian farmakokinetik, farmakodinamik dan pemantauan  resistensi antibiotik yang diperbolehkan penggunaannya pada ikan (erithromycine, enrofloxacine, oxytetracycline dan tetracycline), Survaillans berbasis penyakit ikan strategis kompartemen, produksi test kit diagnostik (rapid test).

Selanjutnya dalam pertemuan tersebut disepakati beberapa kerjasama yang akan menjadi prioritas, diantaranya penggunaan teknologi freeze dry untuk produksi alga pasta, produksi pakan buatan, aplikasi probiotik, enzim dan immunostimulant pada pakan serta komitmen pengiriman mahasiswa untuk kegiatan magang, praktek kerja lapangan dan penelitian yang berkaitan dengan budidaya laut.

Alternatif Pakan untuk Rotifera (Brachionus sp.)

picture2

Keberhasilan kegiatan budidaya didukung oleh berbagai faktor, diantaranya penyediaan benih yang berkuantitas, berkualitas, dan berkesinambungan. Ketersediaan benih sangat dipengaruhi oleh pakan awalnya yang berupa pakan hidup, baik fitoplankton maupun zooplankton sangat dibutuhkan, khususnya rotifera (Brachionus sp.). Pakan utama rotifera adalah fitoplankton terutama dari jenis Nannochloropsis sp. tetapi kadangkala pada budidayanya di skala massal ketersediaannya fluktuatif karena dipengaruhi musim ; untuk itu diperlukan alternatif sumber pakannya. Ragi diketahui dapat dijadikan alternatif karena keberadaannya tidak tergantung musim, mudah didapatkan, dan ekonomis serta penggunaanya dapat dikombinasikan dengan vitamin, suplemen (misalnya taurin), dan lainnya guna meningkatkan pertumbuhan populasinya. Ini sesuai dengan pernyataan Dhert P.and Delbare, 1986 yang menyatakan bahwa selain fitoplankton sebagai pakan utama ; bakteri, jamur ragi, dan bahan organik lainnya yang berukuran sesuai dengan bukaan mulut juga menjadi makanan yang disukai zooplankton laut.

Ragi diberikan dengan dosis 5-10 mg/L per hari dengan cara ragi dilarutkan dalam air. Setelah larut, didiamkan beberapa saat sampai tidak terasa panas lagi baru diberikan ke media kultur Rotifera (Brachionus sp.). Pemberian pakan ini diberikan dua kali dalam sehari. Pada kultur Rotifera (Brachionus sp.) di skala massal berkapasitas 25 M3 dengan sistem konvensional di BPBL Batam dengan pemberian pakan Ragi, kepadatan Rotifera (Brachionus sp.) dapat mencapai rata-rata 120 ind/ml kontinyu panen selama dua minggu.

picture1Gambar 1. Rotifera (Brachionus sp.)

picture2 Gambar 2. Ragi

Pemberian pakan berupa ragi roti, yang dapat dikombinasikan dengan vitamin, suplemen (misalnya taurin), dan lainnya ; dapat dijadikan alternatif pakan pada kultur Rotifera (Brachionus sp.) sebagai pengganti fitoplankton bila fitoplankton sebagai pakan utama Rotifera (Brachionus sp.) tidak tersedia. Walau bagaimanapun penggunaan pakan hidup (fitoplankton) sebagai pakan Rotifera (Brachionus sp.) lebih baik daripada pakan buatan. Hal ini dikarenakan pakan hidup mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan pakan buatan, diantaranya adalah kandungan gizi yang baik dan berperan dalam menjaga kualitas air.

Kunjungan Lapangan Biro Kepegawaian DJPB

13102834_1696633447266753_4768752259212370545_n

13102834_1696633447266753_4768752259212370545_n

BPBL.BATAM-(11/5/16) Sebanyak tiga orang dari Biro Kepegawaian Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan tiba di Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, sekitar pukul 13.30 wib.

Kunjungan tersebut diterima oleh Kasi Uji Terap Teknik dan Kerjasama (Didi Sunantara) diruang pertemuan Bpbl. Batam.

Neneng panggilan akrabnya selaku ketua rombongan dari Biro Kepegawaian djpb mengatakan tujuan kami ke Bpbl.Batam ini adalah untuk melakukan Monitoring dan Evaluasi yang menyangkut tentang kepegawaian, Asessmen dan permasalahan jabatan fungsional yang berada di masing-masing UPT, dan tidak kalah pentingnya juga tentang pengoprasian absen online, dan SKP online, jelasnya.

Pertemuan semakin alot suasana didalam ruangan cukup ramai, karena berbagai macam pertanyaan dilontarkan dari masing-masing pegawai yang memegang jabatan fungsional, mulai dari fungsional perekayasa, arsiparis, Lab.kesling, Pranata Humas, fungsional barang dan jasa, serta bagi yang belum menduduki jabatan fungsional pun juga ikut dipertanyakan.

Walaupun demikian suasana cukup santai satu persatu dijawab sesuai dengan pokok permasalahan, mulai dari hasil penilain dupak, ijin belajar, bahkan sampai ke bagian Lelang jabatan.

Cukup antosias para pegawai Balai Perikanan Budidaya Laut Batam bertanya, setiap pertanyaan tepat sasaran, begitu juga jawabannya tepat sasaran.

Saya sangat senang sekali, pertemuan ini hidup, karena bidang yang saya pegang ini adalah menyangkut karier atau profesi temen-temen pegawai lingkup djpb, tutur neneng panggilan akrabnya sambil tersenyum saat menjawab pertanyaan dari masing-masing pegawai.