• Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, We Are The Best And The Biggest, Batam Mariculture Development Center Leading Innovation in Mariculture Development, Motto Pelayanan : Datang Membawa Harapan, Pulang Membawa Senyuman

Kaji Ulang Manajemen Lab. HPI BPBL Batam

kum2

BPBL Batam – (29/12/16) Sekitar pukul 09.00 wib kegiatan kaji ulang manajemen dimulai dihadiri oleh Kepala Balai (drh. Toha Tusihadi) selaku Manajer Puncak, Kasubag TU (Nur Muflich Juniyanto, S.Pi, M.Si) Selaku Manajer Administrasi, Kasi PDT (Dwi Martha Dinata, A.Md, S.PKP) Selaku Manajer Mutu, Deputi Manajer (Sri Agustatik, S.Pi, M.Si), Manajer Teknis (Hendrianto, S.Pi) dan semua personil Laboratorium.

Kepala Balai selaku Manajer Puncak menyampaikan dalam sambutannya kegiatan ini dilakukan sesuai dengan jadwal dan prosedur yang telah ditetapkan secara priodik untuk melaksanakan Kaji Ulang Manajemen terhadap Sistem Manajemen Mutu dan kegiatan pengujian yang dilakukan untuk memastikan kesinambungan, kecocokan dan efektivitasnya.

Disamping itu juga untuk mengetahui perubahan atau peningkatan (improvements) yang diperlakukan terhadap sistem Manajemen Mutu, jelasnya.

Adapun tujuannya dilakukan Kaji Ulang Manajemen ini adalah untuk memenuhi persyaratan sistem manajemen mutu berdasarkan SNI ISO/IEC17025: 2008, butir 4.15, untuk memastikan kesinambungan kecocokan dan efektivitas sistem manajemen mutu, untuk mengetahui perubahan atau peningkatan yang diperlukan, untuk memelihara kepercayaan dari pelanggan dan untuk memberikan masukan bagi peningkatan sistem manajemen mutu khususnya di Laboratorium Penguji Balai Perikanan Budidaya Laut Batam.

PENERAPAN BIOSEKURITI DI UNIT PEMBENIHAN IKAN LAUT (UNTUK MENUNJANG PRODUKSI BENIH BERKUALITAS DAN BEBAS PENYAKIT)

biosecurity

PENDAHULUAN
Intensifikasi dalam budidaya perikanan akan berdampak pada lingkungan budidaya yang semakin jauh dari kondisi habitat aslinya.  Timbulnya suatu wabah penyakit bukan hanya disebabkan oleh faktor tunggal saja, melainkan merupakan hasil interaksi yang sangat kompleks antara ikan budidaya (stadia, stamina), lingkungan budidaya (internal dan eksternal), serta organisme penyebab penyakit (patogen), dan kemampuan (skill) pelaksana/ petugas (SDM) dalam pemantauan kesehatan ikan (Kabata, 1985).

Untuk mengeliminir terjadinya kegagalan dalam budidaya, maka perlu dilakukan suatu upaya untuk menjaga kondisi lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilaksanakan adalah dengan manajemen pembenihan yang mengacu pada konsep biosecurity agar dapat dihasilkan benih yang berkualitas dan bebas penyakit, serta menekan tingkat kematian ikan dan meningkatkan survival rate.

Biosecurity merupakan suatu tindakan yang dapat mengurangi resiko masuknya penyakit dan penyebarannya dari suatu tempat ke tempat lainnya (Lotz, 1997).

Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam suatu usaha pembenihan ikan adalah kemampuan dalam mengendalikan masuknya dan berkembangnya organisme pathogen pada unit pembenihan tersebut. Hal ini hanya dapat dipenuhi melalui penerapan biosecurity yang sistematis dan konsisten.

Prinsip prinsip penerapan biosecuriti di unit pembenihan ada 4 yaitu : (1) pengaturan tata letak, (2) Pengaturan akses masuk ke lokasi unit pembenihan, dan (3) Sterilisasi bak, peralatan dan ruangan dan (4) Pengaturan Personil

1. Pengaturan tata letak

Pengaturan tata letak yang baik dalam suatu unit pembenihan dapat mencegah penyebaran organisme pathogen dan kontaminasi bahan kimia yang tidak diinginkan dari suatu area ke area yang lainnya. Oleh karena itu dilakukan pengaturan tata letak berdasarkan alur produksi, dilakukan pemagaran/penyekatan dan pengaturan penyimpanan sarana produksi pada tempat yang sesuai dengan fungsinya masing-masing.

2. Pengaturan Akses Masuk Ke Lokasi

Masuknya personil, kendaraan, bahan dan peralatan ke lokasi unit pembenihan dapat menjadi sumber transmisi organisme pathogen masuk ke unit pembenihan. Pengaturan akses masuk ke lokasi unit pembenihan dapat dilakukan dengan membatasi akses masuk hanya satu pintu dan menyediakan sarana sterilisasi .

  1. Pada pintu masuk utama unit pembenihan, harus disediakan sarana sterilisasi bagi roda kendaraan yang akan masuk ke dalam lingkungan unit pembenihan. Sarana celup roda umumnya terbuat dari semen/beton dengan ukuran luas dan kedalaman disesuaikan dengan lebarnya jalan serta kendaraan. Sarana celup dibuat di bagian dalam atau di belakang pagar pintu gerbang lingkungan unit pembenihan. Bahan sterilisasi yang aman digunakan antara lain adalah cairan Kalium Permanganat (KMnO4).
  2. Sarana sterilisasi alas kaki (foot bath) merupakan tempat untuk sterilisasi alas kaki personil yang akan masuk ke dalam ruang produksi. Sarana sterilisasi alas kaki dapat terbuat dari bak semen maupun bahan lain dengan ukuran sesuai ukuran pintu masuk. Sarana sterilisasi berada di depan pintu masuk ruang produksi. Bahan sterilisasi yang aman digunakan antara lain adalah cairan klorin, Kalium Permanganat (KMnO4).
  3. Pagar pada unit pembenihan bertujuan untuk secara fisik membatasi keluar dan masuknya manusia, hewan dan kendaraan yang dapat membawa organisme pathogen ke dalam lingkungan unit pembenihan. Pagar dapat terbuat dari material seperti besi, tembok, bambu atau material lainnya yang kokoh dan rapat.
  4. Sekat antar unit produksi. Untuk menghindari kontaminasi maka antar unit produksi harus terpisah secara fisik, baik melalui penyekatan maupun ruangan/bangunan tersendiri. Sekat antar ruang dapat terbuat dari tembok, papan, triplek atau anyaman bambu yang dilapisi plastik.

3. Sterilisasi  bak, peralatan dan ruangan

Selain melakukan pengaturan tata letak dan akses masuk dari luar ke lokasi unit pembenihan, sterilisasi bak, peralatan serta ruangan produksi juga penting dalam aplikasi program biosekuriti. Tujuan sterilisasi ini adalah untuk mengeliminasi semua organisme pathogen yang berpotensi menyebabkan penyakit yang dapat merugikan usaha pembenihan.

a. Sterilisasi wadah

Wadah dan peralatan yang digunakan dalam suatu pembenihan ikan  berpotensi untuk menyebarkan sumber penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan sterilisasi wadah dan peralatan dengan cara bak pemeliharaan dan peralatan yang akan digunakan untuk pemeliharaan larva terlebih dahulu didesinfektan dengan larutan kaporit 100 -150 ppm (bahan aktif 60%) dan dibiarkan selama   1-2 hari. Setelah 1-2 hari bak pemeliharaan dan peralatan dicuci dengan sabun sampai kaporit yang menempel pada dinding dan bak dasar bersih.

b. Sterilisasi sarana pipa pengairan dan aerasi

Sarana pipa pengairan dan aerasi harus diberi desinfektan dan dikeringkan setiap selesai satu siklus produksi. Selain menggunakan bahan desinfektan dapat dibantu dengan penjemuran sinar matahari.

c. Desinfeksi bak pemeliharaan

Pencucian bak pemeliharaan dengan desinfektan harus dilakukan setelah digunakan dan setiap memulai pemeliharaan baru untuk memastikan bahwa sumber penyakit tidak berkembang dari siklus pemeliharaan sebelumnya.

d. Desinfeksi peralatan dan sarana produksi

Peralatan dan sarana yang digunakan dan berhubungan langsung dengan air media pemeliharaan dapat menjadi media berkembangnya organisme pathogen. Oleh karena itu peralatan operasional yang digunakan harus didesinfeksi baik sebelum maupun setelah digunakan dalam operasional pembenihan.

e. Sterilisasi ruangan produksi

Sterilisasi ruangan pembenihan bertujuan memutus siklus hidup organisme yang tidak dikendaki, dilakukan pada lantai, dinding, atap dan sudut-sudut ruangan yang sulit dibersihkan dengan cara fumigasi atau penyemprotan bahan desinfektan oksidatif yang direkomendasikan.

f. Sterilisasi alas kaki (foot bath).

Sarana sterilisasi alas kaki (foot bath) merupakan tempat untuk sterilisasi alas kaki personil yang akan masuk ke dalam ruang produksi. Sarana sterilisasi alas kaki dapat terbuat dari bak semen maupun bahan lain dengan ukuran sesuai ukuran pintu masuk. Sarana sterilisasi berada di depan pintu masuk ruang produksi. Bahan sterilisasi yang aman digunakan antara lain adalah cairan klorin, Kalium Permanganat (KMnO4), Timsen® atau Khloramin T (Halamid)®. Penggunaan bahan sterilisasi disesuaikan dengan spesifikasi bahan.

g. Sarana sterilisasi tangan.

Sarana sterilisasi tangan merupakan tempat untuk sterilisasi tangan personil yang akan masuk ruang produksi. Sarana sterilisasi tangan dapat berupa wastafel atau alat penyemprot yang ditempatkan di depan pintu masuk ruang produksi. Bahan sterilisasi yang umum dipakai adalah cairan alkohol 70 % atau sabun antiseptik.

4.Pengaturan personil/karyawan

Dalam penerapan biosecurity di suatu unuit pembenihan, pengaturan personil/karyawan menjadi sangat penting agar penerapan biosecurity dapat berjalan efektif dana man bagi personil/karyawan yang terlibat didalamnya dan berkomitmen untuk melaksanakannya. Upaya pengaturan dimulai dengan pemahaman bahwa personil/karyawan yang terlibat dalam proses pemeliharaan/produksi mempunyai potensi menjadi pembawa organisme pathogen. Cara yang dapat dilakukan dalam pengaturan personil/karyawan tesebut antara lain adalah sebagi berikut :

a. Pakaian dan perlengkapan kerja personil

Pakaian dan perlengkapan kerja personil/karyawan yang tidak bersih dapat menjadi sumber kontaminan atau agen transmisi organisme pathogen bagi benih ikan yang dipeliharanya, dan dapat pula mempengaruhi kesehatan personil/karyawan yang memakainya.  Pakaian dan perlengkapan kerja harus terbuat dari bahan yang tidak membahayakan pemakainya dan harus selalu bersih. Untuk sterilisasi dan melindungi kesehatan personil/karyawan maka pemakaian sepatu boot merupakan keharusan selama dalam bekerja. Setiap personil/karyawan sebaiknya menggunakan sarung tangan dan menggunakan penutup hidung bila bekerja dengan bahan kimia dan obat-obatan.

b. Sterilisasi atas kaki dan tangan

Pada saat memasuki sub unit produksi, karyawan sebaiknya melakukan sterilisasi alas kaki dan tangannya sebelum dan setelah melakukan pekerjaan.

Sumber: 

Direktorat Perbenihan, Sub Direktorat Standardisasi dan sertifikasi 2013 “Lampiran Permen KP Nomor PER./MEN/2012 Tentang Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB)

http://biosekuritiakuakultur.blogspot.co.id/2007/12/cacing-cestoda.html diakses pada tanggal 13 Desember 2016

https://www.scribd.com/doc/294882505/biosecurity diakses pada tanggal 13 Desember 2016

 

FLUKTUASI KELIMPAHAN BAKTERI DI WILAYAH PERAIRAN PULAU SETOKOK

bakteri-kelimpahan

Kualitas air merupakan faktor penting dalam keberhasilan usaha budidaya perikanan, termasuk kandungan jumlah bakteri di dalam perairan. Kelimpahan bakteri merupakan salah satu indikator pencemaran dan menjadi sumber munculnya penyakit. Bakteri juga berperan dalam mendekomposisi bahan organik menjadi unsur-unsur mineral yang sangat penting sebagai penyedia nutrien pada rantai makanan dalam suatu ekosistem.

Perairan di sekitar wilayah Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam yang berlokasi di Pulau Setoko, telah dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya sejak tahun 2002. Perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar wilayah ini akan berpengaruh terhadap kualitas lingkungan yang ada. Pemantauan atau monitoring kandungan bakteri perairan secara terprogram dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan pola fluktuasi kandungan bakteri di perairan sehingga dapat digunakan sebagai bahan dasar pengelolaan budidaya di Keramba Jaring Apung (KJA).

Pemantauan kandungan bakteri yang dilakukan oleh BPBL Batam terdiri dari dua parameter, yaitu total bakteri air atau total bakteri umun (TBU) dan total bakteri Vibrio sp ( TBV). Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, nilai TBU dan  TBV di perairan keramba jaring apung BPBL Batam sepanjang tahun 2015 sangat fluktuatif dengan kisaran nilai TBU antara  60 cfu / ml hingga 2,8×104 cfu / ml dan nilai TBV berkisar mulai dari 0 cfu/ml hingga 2,4×103 cfu / ml (lihat grafik).

Nilai TBV  dan TBU tertinggi pada bulan September 2015 ( nilai TBV sebesar 2,4×103 cfu / ml dan nilai TBU sebesar 2,8×104 cfu / ml). Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh musim angina; tingginya arus dan gelombang; curah hujan yang tinggi; serta limpasan air dari daratan yang membawa lumpur dan material organik. Kondisi ini biasanya berlangsung hingga akhir tahun. Dengan demikian, pada periode ini perlu upaya-upaya peningkatan status kesehatan ikan serta kewaspadaan yang tinggi terhadap kemungkinan munculnya penyakit.